Liga Spanyol Metamorfosis Luis Enrique & Lionel Messi Ubah Bencana Jadi Nirwana

Discussion in 'Bola' started by Bola, May 20, 2015.

Discuss Metamorfosis Luis Enrique & Lionel Messi Ubah Bencana Jadi Nirwana in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,952
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Bagi sebuah klub besar dengan sejarah panjang seperti Barcelona, ketidakmampuan meraih trofi dalam satu musim akan dianggap sebagai sebuah kegagalan. Ibarat melakukan dosa besar yang membikin malu seluruh keluarga.

    Stigma "aib kalau nirgelar” semacam itulah yang membuat Gerardo Martino memilih mundur dari kursi panas Camp Nou di akhir musim 2013/14 setelah Barca hanya ia bawa menjadi runner-up di La Liga Spanyol dan Copa del Rey serta hanya menembus perempat-final Liga Champions. Trofi ada satu, tapi hanya sebatas Piala Super Spanyol yang tidak pantas dibanggakan

    Sang pengganti, Luis Enrique, mantan pemain dan eks pelatih Barcelona B, diprediksi bakal bernasib sama seperti Martino setelah mengawali paruh pertama musim dengan kepala tertunduk. Awal musim berjalan lancar, namun setelah keok 3-1 di El Clasico dan langsung berlanjut dengan kekalahan mengejutkan dari Celta Vigo, Enrique bagaikan mendapat SP1 dan SP2 secara bersamaan.

    Ketika itu, Real Madrid sedang giat-giatnya menorehkan rekor rentetan kemenangan beruntun dan duduk nyaman di puncak klasemen La Liga Spanyol. Sementara Barcelona terperosok di urutan keempat sebelum kembali naik ke posisi dua. Tetap saja, kondisi itu tidak ideal bagi tim sekelas Blaugrana.

    Segalanya lantas menjadi semakin kacau. Selepas jeda libur Natal, Lionel Messi dilaporkan telat masuk kamp latihan dan membuat Enrique mengambil keputusan penuh risiko: mengirim Messi ke bangku cadangan dalam lawatan ke Real Sociedad. Hasilnya, Barca takluk 1-0 di Anoeta. Posisi Enrique pun kian terpojok dan pihak manajemen Barcelona mengadakan rapat darurat untuk mendiskusikan masa depan pelatihnya itu.

    [​IMG]Dibangkucadangkannya Lionel Messi melawan Real Sociedad pada Januari lalu menjadi titik balik yang menyadarkan Barcelona bahwa Luis Enrique dan Messi harus selalu bersatu.​

    Bukan cuma karena performa Barca yang menurun, namun juga karena Enrique telah mengalienasi Messi, sang ikon klub sekaligus nyawa permainan tim. "Bagaimana mungkin Enrique, seorang manusia biasa yang belum genap semusim melatih, berani-beraninya menyingkirkan sosok alien yang telah berjasa besar menghadirkan trofi yang tak terhitung jumlahnya bagi klub?” Mungkin begitulah pendapat umum Barcelonista ketika itu.

    Konflik pelatih-pemain pun tak terhindarkan. Messi ngambek dan bahkan dikabarkan sempat mengultimatum akan minggat dari Barcelona jika Enrique tidak segera disingkirkan. Insiden tersebut membuat Barca seperti mendapat bencana bertubi-tubi mengingat konflik internal sedang panas-panasnya.

    Sebagaimana diketahui, terjadi gejolak hebat di dapur klub dalam satu tahun terakhir menyusul pengunduran diri presiden Sandro Rossel, menyeruaknya skandal transfer Neymar, kasus penggelapan pajak Messi, dan sanksi embargo transfer dari FIFA. Ini belum termasuk pemecatan direktur olahraga Andoni Zubizarreta yang disusul oleh pengunduran diri Carles Puyol.

    Barcelona ketika itu benar-benar chaos di luar dan dalam lapangan. "Saya sedih melihat Barcelona seperti ini. Kami kehilangan banyak wibawa,” tutur Johan Cruyff, sang legenda klub. Cruyff hanyalah satu dari sekian banyak pihak yang pesimistis bahwa musim 2014/15 akan dilewatkan Barcelona tanpa gelar seperti musim sebelumnya.

    Di tengah situasi kacau balau ini, Enrique tetap bergeming. Kritik sama sekali tidak ia pedulikan seiring ia yakin pada pendiriannya. "Saya tidak akan mengubah apa pun. Saya ingin diri saya dan skuat ini terus berkembang. Saya ingin meraih gelar dengan filosofi saya sendiri,” ujar Enrique.

    [​IMG]Luis Enrique berhasil membawa Barcelona keluar situasi sulit di tengah musim.​

    Perlahan dan tahap demi tahap, pelatih berusia 45 tahun itu membuktikan omongannya. Semenjak kekalahan di markas Sociedad tersebut, Enrique bekerja keras untuk membenahi skuatnya agar kembali ke trek juara. Dua tugas besar yang telah ia tuntaskan.

    Yang pertama adalah mengatur ego Messi sebagaimana Enrique memilih berdamai dengan sang bintang utama. Messi pun menjawab kepercayaan sang pelatih secara total. Ini terbukti dengan performa Messi yang meroket selepas pergantian tahun. "Bersama Messi, hidup akan terasa lebih mudah. Dia mampu memecahkan semua masalah. Dia berasal dari planet lain,” puji Enrique.

    Kedua, Enrique menyempurnakan filosofi Barcelona dengan caranya sendiri. Ya, Barcelona arahan Enrique sudah tidak mengagungkan tiki-taka yang menjadi ciri khas mereka selama ini. Jika perlu, mereka bermain pragmatis dan menyerang lewat serangan balik – sesuatu yang sangat asing bagi Xavi dkk. di era Pep Guardiola. Nyatanya, taktik ini diterjemahkan sempurna oleh seluruh pemain di segala lini.

    Perubahan Enrique dari pecundang menjadi pahlawan ini turut berdampak pada Messi. Pergeseran posisi Messi dari penyerang tengah ke penyerang kanan membuat sang penyerang Argentina tetap beringas. Messi ajaib seperti biasa, memiliki penyelesaian akhir mumpuni, visi bermain yang tak tertandingi, dribel lengket yang hanya bisa dihentikan dengan cara dilanggar, hingga mau turun ke belakang menjemput bola.

    Sebagai dampaknya, dua partnernya di lini depan, Neymar dan Luis Suarez ikutan tokcer. Seakan memiliki telepati, trio MSN mampu membentuk lini depan paling seram sedunia dengan sudah menggelontorkan 115 gol sejauh ini atau sekitar 73 persen total gol Barcelona. Messi tetap menjadi bosnya dengan torehan 54 gol dari 54 laga. Jika sudah demikian, Messi yang dominan sama artinya dengan Barcelona yang dominan.

    [​IMG]

    Minggu (17/5) kemarin, Barcelona baru saja melakukan pembalasan manis terhadap Atletico Madrid. Masih segar dalam ingatan ketika Camp Nou dibuat bersedih di jornada terakhir musim lalu ketika Diego Godin mencetak gol semata wayang untuk memberikan gelar liga bersejarah bagi Atletico. Kini yang terjadi sebaliknya. Siapa lagi kalau bukan Messi yang menciptakan momen brilian di Vicente Calderon untuk menghadirkan gelar La Liga kelima dalam tujuh tahun terakhir bagi Barca. Bukti bahwa sang raksasa Catalan masih mendominasi tanah Spanyol.

    Final Copa del Rey melawan Athletic Bilbao pada 30 Mei esok di Camp Nou sepertinya bukan perkara sulit. Tinggal final Liga Champions penuh intrik melawan Juventus pada 6 Juni mendatang yang bakal menjadi tantangan terbesar Barcelona musim ini. Serahkan Berlin pada kegeniusan Messi, maka sempurnalah musim debut Enrique di Barca. Treble sudah tidak samar-samar lagi seperti di awal musim.

    Kini, Messi dan Enrique sedang menyongsong nirwana yang telah mereka rajut sendiri. Sebab keduanya mau berinisiatif untuk bermetamorfosis. Ibarat kupu-kupu, Messi dan Enrique adalah kedua kepak sayap yang siap mengangkat tubuhnya keluar dari pupa, membawa Barcelona terbang tinggi ke angkasa menggapai puncak kesuksesan sekali lagi.

    liga spanyol table, klasemen, seri b, malam ini, terkini, divisi 2, Metamorfosis Luis Enrique & Lionel Messi Ubah Bencana Jadi Nirwana
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page