Pentingnya User Advocate Dalam UI/UX Development

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Jan 29, 2016.

Discuss Pentingnya User Advocate Dalam UI/UX Development in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,762
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    People ignore design that ignores people.

    Orang akan mengabaikan desain yg tidak memedulikan orang lain. Kalimat desainer & ilustrator Frank Chimero tersebutdikutip oleh Devita Mira, UX Researcher Bukalapak yg menjadi salah satu pembicara dalam acara TIA DevTalk yg diadakan oleh Tech in Asia, Rabu (27/1), di kantor Bukalapak, Jakarta.

    [​IMG]

    TIA DevTalk kali ini mengangkat tema “Key Ingredients of UI/UX for Development.” Berbagai hal seputar UI/UX development dibahas di sini, salah satunya tentang user advocate yg disampaikan oleh Devita.

    Apakah yg dimaksud denganuser advocate itu? Secara umum, advocate artinya merekomendasikan / mendukung. Nah,user advocate sendiri bisa diartikan sebagai seseorang yg berempati, peduli, & dapat mendukung keperluan user. Lebih penting lagi, seoranguser advocate harus dapat merepresentasikan kemauan user dari sudut pandang user.

    Ada fakta menarik yg diungkap seputaruser advocate. Ternyata,user advocate itu bukan hanya desainer UI/UX. Siapa saja bisa menjadiuser advocate. Termasuk kamu. Siapa pun yg peduli dengan kebutuhan user & mau membuat produk yg user-friendly, mereka bisa dikatakan sebagai User Advocate.

    Seoranguser advocate harus memastikan kalau kebutuhan user tidak terlupakan, tapi di sisi lain juga tetap memerhatikan berbagai aspek yg berkaitan dengan business development, fungsi produk, & sebagainya.

    Karena memahami user adalah salah satu hal yg krusial bagiuser advocate, ada dua langkah yg perlu diambil olehuser advocate untuk dapat mencari tahu kebutuhan user.
    1. Cara termudah: The 5 Why
    Dalam 5 Why, yg perlu kamu lakukan adalah bertanya pada user seputar produk ataupun desain produk. Tidak sekadar bertanya, kamu juga harus bisa menggali dalam-dalam informasi dari user. Tanyakan kenapa lagi & lagi.

    Jangan ragu untuk bertanya pada analis / Project Manager mengenai produk yg sedang kamu kerjakan, supaya kamu tahu apa yg dibutuhkan dari sisi bisnis & apa yg bisa kamu sesuaikan dengan keperluan user.

    Kalau mau menemukan informasi selengkap-lengkapnya, kamu harus mau keliling-keliling ke berbagai divisi. Jadi jangan heran kalau UX researcher itu dalam satu jam bisa berpindah-pindah ke berbagai pojok yg berbeda, ujar Devita.

    Kalau informasi seputar user yg kamu dapat masih kurang, cari lagi data dari divisi lainseperti dari Data Analyst, CS, Marketing, & sebagainya.
    2. Cocokkan solusi yg kamu dapat
    Setelah kamu mendapatkan data-data yg berhubungan dengan masalah UI/UX yg dihadapi userdan kamu sudah menemukan solusinya, refleksikan kembali jawaban yg kamu dapatkan. Apakah program yg sedang kamu kerjakan dapat menjadi solusi bagi pain point user? Kalau jawabannya iya, lakukan validasi dengan menguji solusi yg kamu dapatkan!

    Usabiliy testing itu adalah bentuk tes kualitatif. Untuk memastikan kalau solusi itu bisa digeneralisasikan, kamu harus menyinkronkan data kualitatif dengan data-data kuantitatif yg kamu dapat dari data analyst.

    Jadi, jika diringkas, langkah-langkah yg perlu kamu lakukan adalah:
    1. Mencari tahu pain point user
    Cobalah untuk memahami pain point yg dialami user saat menggunakan produkmu. Kemudian, cari tahu solusi apa yg bisa kamu berikan. Kamu juga bisa mencari solusi pain point apa yg ditemukan user di produk kompetitor, supaya kamu bisa menjadikannya sebagai studi kasus & menghindari solusi pain point yg sama di produkmu.
    2. Dapatkan solusi & lakukan tes
    Jika kamu menemukan banyak pain point & bingung ingin memberikan solusi untuk yg mana, fokuslah pada masalah yg paling kritis terlebih dulu. Lakukan tes sesegera mungkin, uji pada orang-orang yg sesuai target market kamu, / langsung ke user.
    3. Periksa kembali
    Lihat kembali data-data yg kamu dapat. Apakah masih ada yg bisa kamu kembangkan lagi? Apakah kamu sudah bisa pindah ke pain point yg lain? Kalau sudah, lakukan pengujian berulang untuk validasi solusi tersebut.

    Sebagaiuser advocate, kamu dituntut untuk lebih peka dalam memahami user & lebih memerhatikan hal-hal detail yg berkaitan dengan kenyamanan user. Dengan kata lain, kamu adalah pahlawan bagi user yg menggunakan produk kamu. Dan ini tidak hanya berlaku untuk para UX Researcher / desainer UX saja, tapi juga siapapun yg peduli dengan hal ini. Termasuk kamu.

    Kutipan berikut, yg diselipkan Devita dalam salah satu slide presentasinya, bisa menjadi acuan saat kamu mengembangkan sebuah produk:

    No matter what your world-changing idea may be, or technological breakthrough, everything new needs to go through a process of testing, refining and improving before it becomes a normal and widely accepted part of our lives.

    (Diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah; Sumber gambar pixabay)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page