Perbedaan Silicon Valley dan Asia dalam menggunakan uang

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Sep 22, 2015.

Discuss Perbedaan Silicon Valley dan Asia dalam menggunakan uang in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,760
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    Jika kamu sudah cukup lama berkecimpung di dunia startup Asia, hampir bisa dipastikan kamu akan mulai mendengar kalimat yg sama berkali-kali: pecahkan masalah, incar pasar yg besar, kembangkan strategi regional, & bangun tim yg hebat. Tapi cara kerja pelaku bisnis di Asia pada kenyataannya tidak seperti nasihat yg sering kamu dengar itu. Kamu bisa melihatnya dengan jelas ketika mengamati bagaimana perusahaan Asia menggunakan uang mereka. Di sisi lain, mungkin kamu juga sudah melihatnya.

    Ketika berbincang dengan salah satu pengguna komunitas kami di Tech in Asia, yg berasal dari Silicon Valley, ia membuat pernyataan bahwa perusahaan Silicon Valley akan mencari dana untuk merekrut orang yg berpengalaman. Google adalah contoh yg paling bagus untuk ini. Eric Schmidt direkrut sebagai supervisor senior.

    Hal yg sama juga terjadi di Apple. Steve Jobs harus meyakinkan John Sculley untuk menjalankan perusahaan miliknya. Contoh yg baru untuk kasus ini antara lain Yahoo yg melakukan acquihire gila-gilaan, Uber yg merekrut Andrew Chen (ketimbang memilih orang lain lain), Facebook yg mengambil pegawai Google, & masih banyak lagi. Tidak heran perusahaan besar di Silicon Valley harus membayar lebih dari $400 juta (sekitar Rp 5 triliun untuk urusan sengketa pengambilan pegawai.

    Mereka tahu betapa pentingnya memiliki orang terbaik yg bekerja untukmu, & mereka akan membayar mahal untuk itu. Itulah tujuan mereka mencari dana: gaji & opsi saham. Ini bukan urusan mencari orang yg tua & berpengalaman, tapi niat perusahaan untuk membayar mahal sumber daya manusia terbaik.

    Baca juga: Pengaruh Sihir Silicon Valley
    Menggunakan uang untuk pemasaran
    Di Asia, perusahaan yg melakukan hal yg sama adalah cabang Asia dari perusahaan di Silicon Valley seperti Uber, & perusahaan milik Rocket Internet. Sebagai contohnya, perusahaan milik Rocket Internet dikenal merekrut veteran dari McKinsey & melatih mereka untuk menjadi managing director & co-founder (karena mereka memang punya dana pemasaran yg sangat besar). Belakangan ini, mereka bahkan merekrut mantan manajer Amazon untuk memimpin perusahaan mereka.

    Meski begitu, beda dengan Valley & Rocket Internet, startup yg sukses di Asia lebih memilih untuk merekrut orang-orang baru, melatih mereka, & menggunakan sebagian besar dana mereka untuk urusan pemasaran.

    Kamu juga bisa mencoba datang ke konferensi teknologi besar di Asia & melihat berapa banyak orang yg sudah punya pengalaman puluhan tahun di industri teknologi. Lalu, coba cari orang yg punya / kerja di perusahaan yg baru menerima pendanaan seri A. Founder mereka biasanya adalah yg paling tua & paling berpengalaman di timnya. Apakah kamu melihat hal yg sama? Atau, ada sesuatu yg selama ini saya lewatkan?

    Jika ini benar, maka semuanya masuk akal. Pasar Asia masih sangat baru sehingga mengalokasikan dana untuk mengedukasi pasar tentang produk kamu dianggap sebagai penggunaan uang yg bagus. Ini juga tanda betapa mudanya ekosistem startup di Asia.

    Tidak banyak orang yg benar-benar kompeten & berpengalaman di benua ini. Karena itu, lebih baik menggunakan dana investasi yg baru diterima untuk pemasaran. Hal ini tentunya jauh lebih aman.

    [​IMG]
    Apakah Ini Gaya Asia?
    Tapi apakah pilihan itu bisa jadi berkesinambungan? Alasan mengapa perusahaan baru di Silicon Valley cenderung mau mengeluarkan banyak uang untuk orang yg berpengalaman karena orang-orang ini membawa proses, sistem, & pengalaman yg membuat perusahaan kelas dunia yg solid. Mereka tahu cara mana yg efektif. Karena itulah mereka dibayar mahal.

    Jika kamu menggunakan semua danamu untuk pemasaran, pada akhirnya, kamu hanya akan memiliki perusahaan yg cukup bagus & pengguna yg tidak begitu kamu pahami. Kamu pada akhirnya akan membangun tim yg penuh dengan anak muda yg terus membangun istana pasir tiap kali mendapat investasi; terlihat indah, tapi ternyata sangat rapuh.

    Tapi tetap saja, intinya adalah: ekosistem startup di Asia masih sangat muda sehingga tidak ada orang yg sudah pernah melihat semua hal, sukses & gagal, naik daun & bangkrut. Saat ini, Asia mungkin masih sedang dalam masa naik daun. Masih perlu waktu sepuluh tahun lagi sebelum ada orang yg berpengalaman yg bisa direkrut.

    Saya tidak melihat adanya solusi nyata untuk masalah ini selain mendapat investasi besar sampai bisa menarik orang hebat dari Silicon Valley untuk membantu mendirikan perusahaanmu. Kamu hanya harus siap untuk memberikan uang yg kamu peroleh untuk merekrut mereka.

    Masalahnya, pendekatan seperti itu mungkin bukan sesuatu yg ada di pikiran para founder di Asia. Mereka lebih memilih untuk bekerja dengan sesama orang Asia, & budaya hierarki di Asia membuat merekrut orang yg lebih tahu darimu membuat itu semakin sulit. Pada akhirnya, Asia harus mencari caranya sendiri berkat sifat keras kepalanya.

    (Diterjemahkan oleh Yasser Paragian & diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page