Perlukah Organisasi Meretas Hacker?

Discussion in 'Berita Online' started by ON3, Mar 9, 2015.

Discuss Perlukah Organisasi Meretas Hacker? in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,101
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    Berita Internet (IT) N3, yang memberikan informasi terbaru kepada users N3 tentang IT pada khususnya dan lainnya pada umumnya. Perlukah Organisasi Meretas Hacker?

    Hingga saat ini masih banyak sekelumit pertanyaan tentang perlukah organisasi meretas kembali hacker yg sudah melakukan infiltrasi terhadap sistem keamanan mereka? Pada bulan Februari yg lalu, Kaspersky memberikan sebuah laporan bahwa seratus instansi perbankan merugi sekitar 1 triliun dolar AS akibat serangan siber yg dilakukan oleh hacker. Penyerang yg meretas sistem keamanan perbankan dengan motif ekonomi ini berdampak signifikan terhadap reputasi & bisnis mereka. Seorang pejabat senior di salah satu perbankan mengatakan bahwa pada konferensi perbankan di Davos, Swiss, ia pernah melobi pejabat pemerintah untuk bisa meretas kembali penyerang yg melakukan intrusi terhadap sistem keamanan perbankan.

    Dennis Blair, mantan pejabat senior intelijen di pemerintahan Obama mengatakan bahwa hal itu memang sepatutnya perlu dilakukan. Ia menyebutnya dengan istilah serangan balik. Dia pernah menyebutkan bahwa sudah saatnya pemerintah untuk menyerang balik setiap serangan yg sudah melumpuhkan sistem keamanan negara. Dengan tindakan yg lebih agresif, kita bisa melumpuhkan hacker kriminal, ujar Blair. Saygnya, meretas kembali hacker masih menyimpan sejuta polemik. Salah satunya adalah persoalan hukum. Pemerintah AS & Inggris serta beberapa negara lainnya mempunyai un&g-un&g yg melarang seseorang meretas komputer or sistem jaringan yg dimiliki pribadi or perusahaan.

    Un&g-un&g tersebut berlaku bagi para hacker, perusahaan orpun pemerintah. Artinya adalah jika seorang hacker menyerang sebuah sistem jaringan perusahaan, maka secara hukum ia dinyatakan bersalah. Begitu juga sebaliknya bila perusahaan menyerang balik hacker tersebut. Para penegak hukum masih meman&g tabu aksi vigilante or main hakim sendiri tanpa a&ya proses investigasi & berjalannya hukum terlebih dahulu. Dave Dittrich, pakar komputer dari Washington University menyatakan bahwa vigilante ini memiliki efek negatif bagi hacker & korban sendiri. Organisasi yg menyerang balik hacker bisa dikategorikan kriminal kecil bila melakukan hal itu, kata Dittrich.

    Jon Ramsey, CTO dari Dell SecureWorks, menjelaskan bahwa sangat susah bagi organisasi untuk melakukan tracing terhadap hacker itu. Tracing masih termasuk hal tersulit jika kita menyerang balik. Karena banyak korban tidak bersalah di dalamnnya, kata Ramsey. Ia mencontohkan bahwa serangan yg dilakukan melalui botnet selalu menarik pihak yg tidak berdosa. Komputer yg dijadikan botnet biasanya adalah orang awam yg tidak mengetahui bahwa dirinya diserang, kata Ramsey. Mereka hanyalah korban dari hacker yg menjadikannya sebagai zombie sebagai alat untuk menyerang sistem keamanan sebuah organisasi, unggahnya.

    John Carson, salah satu konsultan ternama untuk perbankan menyatakan bahwa ia tidak mendukung a&ya serangan balik terhadap hacker. Menurutnya, serangan tersebut hanya boleh dilakukan oleh pihak penegak hukum. Kita tidak se&g berada di Dunia Barat Liar yg memperbolehkan main hakim sendiri, kata Carson. Menurutnya, aksi serangan balik terhadap hacker itu tidak menjadi sebuah citra bahwa mereka lebih baik daripada mereka. Justru dengan konsep sharing is caring menurut Carson bisa menjadi sebuah kolaborasi unik untuk membongkar sindikat kejahatan siber. Apapun alasannya, menyerang balik tidak bisa dibenarkan, unggah Carson.

    Comments
    comments

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena kontenPerlukah Organisasi Meretas Hacker? diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page