Liga Inggris Revolusi Intelektual Sepakbola Inggris Adalah Keharusan

Discussion in 'Bola' started by Bola, Mar 31, 2016.

Discuss Revolusi Intelektual Sepakbola Inggris Adalah Keharusan in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    42,662
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Gary Neville dipecat!

    Kabar tersebut sejatinya sudah menjadi kabar yang bisa ditebak oleh kalangan media, mengingat Neville tak mampu mengangkat performa Valencia sedemikian rupa. Hingga keputusan ini diambil, baru tiga kemenangan yang bisa diraih dan Valencia terdampar di peringkat 14, enam poin unggul dari penghuni batas atas zona degredasi.

    Bahkan berita itu sudah bisa diprediksi sejak minggu ke sembilan Neville menangani Valencia. Pertimbangannya, tak ada kemenangan yang bisa ditorehkan mantan bek sayap Manchester United itu, sebelum akhirnya bom waktu untuk Neville itu meledak dini hari tadi waktu Indonesia.

    Keputusan pemecatan itu lumrah, tapi untuk mereka yang mengamati fenomena sepakbola di Inggris, talak yang sudah diambil Valencia menjadi penegas tersendiri bahwa ada ironisme yang begitu mengkhawatirkan di negerinya Ratu Elizabeth itu.

    SIMAK JUGA
    Ruud Gullit Tertarik Tangani Aston Villa
    Belanda Ingin Louis van Gaal Kembali
    Valencia Inginkan Jose Mourinho

    Oke, begini faktanya. Sejak Liga Primer Inggris dibentuk pada 1992, tak pernah ada pelatih asal Inggris yang pernah memenangi kompetisi ini. Bahkan pelatih asal Inggris terakhir yang bisa membawa timnya ke peringkat dua hanya satu orang, Kevin Keegan di Newcastle United pada 20 tahun lalu. Dan hanya dua pelatih asal Inggris lainnya yang bisa membawa timnya menembus tiga besar, Roy Evans di Liverpool dan Sir Bobby Robson di Newcastle pada 2003.

    Pertanyaannya kemudian, kemana pelatih asal Inggris lainnya? Seperti apa kualitas yang dimiliki pelatih Inggris yang ada? Apakah memang benar intelektualitas pelatih asal Inggris dalam hal meracik tim dan memainkan strategi sama sekali kalah bersaing dengan pelatih asing?

    Memalukan memang. Melihat ke belakang, tak ada pelatih asal Inggris yang bisa dibanggakan dengan pencapaian mereka. Mungkin hanya Robson yang bisa dikenang karena sukses membawa Barcelona sebagai juara Piala Winners tahun 1997, juga Joe Fagan dan Keith Burkinshaw yang mengantar Liverpool meraih sukses di Piala Champions dan Piala UEFA pada 1984.

    Bagaimana dengan saat ini? Faktanya, hanya ada tiga pelatih asal Inggris yang berkiprah di Liga Primer musim ini, dua di antaranya bersaing untuk menjauh dari zona degradasi (Alan Pardew dan Sam Allardyce). Dan dengan dipecatnya Neville oleh Valencia, tak ada pelatih asal Inggris di La Liga, Serie A, Ligue 1 atau Bundesliga. Bahkan dua dari empat pelatih Inggris terakhir adalah bukan pelatih lokal Inggris. Ironis sekali, bukan?

    Bukan tanpa alasan mengapa situasi ini bisa terjadi. Allardyce pernah menyatakan bahwa minimnya kesempatan untuk pelatih lokal menjadi masalah utamanya.

    Tapi Allardyce punya solusi terkait hal ini, dengan menerapkan "Rooney Rule", untuk memastikan pelatih asal Inggris selalu diwawancara untuk pekerjaan di Liga Primer.

    "Rooney Rule merupakan ide yang fantastis karena banyak sekali pelatih di luar sana yang memiliki kualitas bagus, memiliki pengalaman segudang dan tak mendapatkan kesempatan melakukan tugas mereka untuk negara mereka sendiri," dalih Allardyce kala itu.

    Apa itu sebenarnya 'Rooney Rule'? Aturan ini diperkenalkan di Amerika serikat untuk memastikan kandidat yang tidak berkulit putih mendapatkan kesempatan wawancara untuk pekerjaan di NFL. Adalah chairman Pittsburg Pirates Dan Rooney yang menggagasnya, dengan latar belakang bahwa mereka yang memiliki keturunan Afrika-Amerika tak mendapatkan kesempatan yang sama ambil bagian dalam permainan.

    Tapi bila situasinya dibandingkan dengan situasi di sepakbola Inggris, banyak sekali perbedaan yang muncul. Tak sedikit yang berpendapat bahwa memang pada dasarnya pelatih asal Inggris tak cukup bagus. Semua ini bukan terjadi karena minimnya pengalaman dan pengetahuan, tapi budaya sepakbola di negara itu sendiri yang tidak mendukung.

    Memang banyak cara untuk bisa menjadi pelatih sukses, mulai dari kemampuan manajemen pemain dan hubungan dengan media, hingga kemampuan menilai dan melatih pemain itu sendiri. Tapi yang terpenting dari itu semua adalah intelektualitas sepakbola yang dimiliki. Tanpa faktor ini, tak mungkin bisa menjadi pelatih top.

    Dan media massa Inggris memiliki pengaruh besar untuk itu. Malcolm X juga sudah menyatakannya beberapa dekade silam, bagaimana peran 'media mengendalikan pemikiran masa'. Media Inggris begitu menggembor-gemborkan bahwa sepakbola terbaik di dunia hanya ada di Liga Primer Inggris. Merekalah pemilih sepakbola, atau kompetisi, terbaik di dunia. Dan untuk mempertegas hal tersebut, mayoritas media mainstream Inggris tak memberikan ruang untuk kompetisi lain mencuri perhatian publik mereka. Jadi lumrah bila publik Inggris seakan hidup dalam sebuah gelembung, di mana budaya sepakbola dari luar ditolak dan dijauhkan dari mereka.

    Pemain muda dan pelatih di Inggris juga kerap terkendala dengan masalah bahasa, dan tak dipermudah untuk mendapatkan pendidikan sepakbola yang dibutuhkan untuk bisa bersaing dengan lawan mereka dari luar, terutama dalam hal mengembangkan intelektualitas mereka. Media, mulai dari jurnalis hingga analis sepakbola lokal, seakan masih terjebak dalam paradigma lama, bahwa Italia hanya akan memainkan Catenaccio, Jerman selalu lambat panas seperti Panser dan pemain Argentina suka diving.

    Karena alasan itu pula publik di luar Inggris seakan sudah tak lagi mempercayai media massa Inggris, terutama dalam hal bagaimana mereka memainkan isu dan rumor, terutama memasuki bursa transfer pemain.

    "Di Spanyol, tak ada yang mempercayai atau menaruh hormat pada media sepakbola Inggris, karena tabloid yang disebarkan berisi rumor tanpa dasarr mengenai kehidupan pribadi pemain dan wanita mereka," ujar Ignasi Oliva, koresponden Goal di Barcelona.

    "Mereka sama sekali tak memahami mengapa media olahraga dan informasi yang disampaikan sama sekali tak ada kaitannya dengan olahraga," sindirnya.

    Harus disadari, Inggris harus membuka diri lebih lebar untuk bisa mengembangkan kapabilitas mereka bersaing dengan apa yang ada di luar mereka, baik pelatih, pemain atau bahkan apa pun itu. Inggris harus lebih memahami ada seni terkait sepakbola yang lebih baik, terutama dalam hal taktik.

    Di Italia, pentingnya hal tersebut sudah ditanamkan kepada pemain muda di usia yang sangat belia. Pelatih mempelajari lawan mereka dengan sangat teliti, seluruh sesi latihan dijalankan melalui perencanaan, memahami hal-hal yang sangat kecil dan detail. Semua ini pada akhirnya akan menciptakan pemahaman dan intelektualitas sepakbola yang sangat luar biasa, dan hasilnya bisa seperti Marcello Lippi, Giovanni Trapattoni, Carlo Ancelotti, Fabio Capello, Claudio Ranieri dan juga Antonio Conte.

    Pada intinya, harus ada revolusi intelektual di sepakbola Inggris, dan sampai itu terwujud, akan ada jalan panjang sampai kita semua bisa melihat pelatih lokal bisa mengangkat ttrofi juara Liga Primer Inggris, Liga Champions, Piala Eropa atau bahkan mungkin Piala Dunia.

    liga inggris musim depan, liga inggris live, jadwal bola liga inggris di tv, Revolusi Intelektual Sepakbola Inggris Adalah Keharusan
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page