Social Engineering Masih Menjadi Ancaman

Discussion in 'Berita Online' started by ON3, Mar 16, 2015.

Discuss Social Engineering Masih Menjadi Ancaman in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,101
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    Berita Internet (IT) N3, yang memberikan informasi terbaru kepada users N3 tentang IT pada khususnya dan lainnya pada umumnya. Social Engineering Masih Menjadi Ancaman

    Social engineering or rekayasa sosial masih menjadi ancaman terbesar bagi sebuah organisasi. Setidaknya itulah simpulan yg berhasil dianalisis oleh tim Intel Security. Social engineering yg merupakan salah satu cara untuk mencuri informasi dengan memanfaatkan kejiwaan manusia berhasil dimanfaatkan oleh penjahat siber untuk mencuri banyak data & uang untuk kepentingan ilegal mereka. Intel Security memaparkan bahwa pada tahun 2014 yg lalu, total kerugian yg dialami organisasi di dunia akibat kejahatan siber mencapai 425 miliar dolar AS. Menurut pendapat dari European Cyber Crime Centre (E3C), seluruh karyawan mulai dari staf hingga direksi harus memiliki kewaspadaan terhadap ancaman social engineering.

    Metode ini adalah salah satu cara yg paling lazim digunakan oleh para penjahat siber, papar E3C. Penjahat siber biasanya menggunakan phising email yg berisikan tautan berisi malware or ajakan untuk memberikan informasi rahasia. Berdasarkan hasil penelitian Intel Security, perbankan orpun organisasi mempunyai penerapan aplikasi keamanan yg canggih secara teknologi. Saygnya, masih banyak organisasi yg luput memperkuat human firewall untuk mencegah social engineering. Profesor R. Eko Indrajit, Guru Besar dari Perbanas menyatakan bahwa social engineering adalah suatu teknik yg dipergunakan untuk mendapatkan kepercayaan orang lain melalui pendekatan interaksi sosial sehari-hari sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.

    Phising email menurut Prof. Eko Indrajit memang salah satu modus berbahaya. Dalam sebuah pemaparan, Prof. Eko Indrajit pernah menyatakan bahwa pos elektronik (pos-el) sering sekali dimanfaatkan oleh penjahat siber untuk mendapatkan informasi yg bersifat rahasia. Pada umumnya isi dari pos-el itu mengatakan dalam rangka perbaikan & pengembangan teknologi informasi perusahaan, maka setiap pelanggan diminta untuk memberikan password-nya & mereka yg bersangkutan dapat diprioritaskan dalam proses upgrading teknologi yg dimaksud, ujar Prof. Eko. Tanpa curiga mereka yg menyerahkan kata kunci dimaksud akan langsung menjadi korban penipuan, lanjutnya.

    Raj Samani, CTO dari E3C mengatakan bahwa ketika lembaga mereka melakukan investigasi terhadap kebocoran data, social engineering pasti menjadi salah satu modus untuk membobol sistem keamanan organisasi. Lebih lanjut, Raj pun menyatakan bahwa organisasi harus bisa membuat sebuah kebijakan yg mampu menggabungkan aspek people, process and technology. Se&gkan Prof. Eko Indrajit menjelaskan bahwa aspek edukasi adalah hal paling terpenting dalam mencegah kebocoran data. Setiap individu harus memiliki kesadaran, kepedulian, & kemampuan sesuai dengan kapasitas & pekerjaannya sehari-hari untuk mengelola keamanan informasi dalam lingkungannya sendiri, papar Prof. Eko. Prinsip your security is my security perlu ditanamkan secara mendalam ke seluruh insan pengguna komputer & internet, lanjutnya.

    Comments
    comments

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena kontenSocial Engineering Masih Menjadi Ancaman diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page