Teknologi pelindung kabut asap di Indonesia

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Nov 24, 2015.

Discuss Teknologi pelindung kabut asap di Indonesia in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,761
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    Topik yg paling menyita perhatian di Asia Tenggara selama beberapa bulan ke belakang adalah kerusakan lingkungan & bencana manusia yg disebabkan oleh kebakaran lahan gambut di Indonesia.

    Sedikitnya 19 orang meninggal akibat polusi udara yg disebabkan. Lebih dari setengah juta penduduk di Indonesia menderita penyakit saluran pernafasan, sementara negara tetangga Singapura & Malaysia juga terkena dampak yg sama.

    Perlu gambaran lebih lanjut? Sebagai dampak atas kebakaran tersebut, kadar emisi gas karbon dioksida yg ada di Indonesia selama beberapa minggu ke belakang telah melampaui jumlah yg dihasilkan oleh Jerman selama setahun. Bagian paling buruknya: Kebakaran ini adalah ulah manusia.

    Membakar hutan adalah cara paling hemat dalam membebaskan lahan perhutanan untuk ditanami kelapa sawit, namun juga paling berisiko. Belum lagi, musim kemarau berkepanjangan pada tahun ini memperburuk keadaan, selain juga mempercepat penyebaran titik kebakaran.

    Beruntung, masyarakat yg terkena dampaknya bisa sedikit lega karena hujan sudah mulai turun.

    Bagaimana sebaiknya mengelola lahan gambut agar tragedi serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari? Presiden Indonesia Joko Widodo telah menunjuk pihak universitas untuk membantu menemukan solusinya. Para inovator teknologi di Asia Tenggara juga dapat ikut memberi sumbangsih.

    Selain membangun penyaring udara, membuat aplikasi pengukur tingkat polusi, / membagikan masker untuk mengurangi dampak asap, para ahli teknologi harus menciptakan solusi yg dapat mengatasi penyebab masalah ini.

    Berikut adalah beberapa teknologi menjanjikan yg sejauh ini telah digunakan sebagai bagian dari cara melindungi alam.

    Baca juga: Wacana Regulasi Baru 3 Kementerian Indonesia Bisa Hentikan Penjualan iPhone di Tanah Air
    Pengawas suara
    Topher White dari San Francisco mencetuskan ide brilian ini: ia menggunakan ponsel model lawas untuk mengawasi bunyi-bunyian yg ada di hutan. Ponselnya ditenagai oleh kumpulan panel tenaga surya & disembunyikan di puncak pohon.
    [​IMG]Tropher White, penggagas Rainforest Connection

    Ponsel tersebut dapat diprogram untuk mendengarkan bunyi suatu hewan, namun ponsel yg digunakan Topher dalam proyek Rainforest Connection diprogram untuk mendengarkan bunyi yg tak semestinya ada di hutan hujan. Contohnya gergaji mesin / percakapan manusia. Alat tersebut kemudian mengirim sinyal ke stasiun pengendali.

    Rainforest Connection sukses menjalankan program percobaannya di pulau Sumatera. Keuntungan dari teknologi ini adalah biayanya yg murah. Syangnya alat ini tak dapat mencakup area yg luas & setiap perangkat harus dipasang secara manual.
    Sensor Pintar
    Libelium adalah perusahaan asal Spanyol. Perusahaan ini ahli dalam pembuatan sensor pintar yg terhubung dengan perangkat lunak untuk memudahkan pengawasan. Ada begitu banyak aplikasi yg terhubung dengan sistem Libelium.

    Teknologi ini pernah digunakan untuk pendeteksi dini kebakaran hutan di Spanyol. Sebagai contoh, sensor tersebut bisa diatur untuk mendeteksi kelembaban, suhu, & perubahan tingkat CO2 dalam rentang waktu yg singkat. Sistem akan mengirimkan sinyal jika ada perubahan yg signifikan.

    Teknologi ini dapat mendeteksi perubahan kecil & menunjukkan sumber kebakaran dengan sangat akurat. Kekurangan dari teknologi ini adalah setiap sensor harus ditempatkan satu per satu secara manual.
    Drone buatan sendiri
    Jika area yg ingin diawasi tak terlalu luas, pengawasan udara dengan menggunakan drone adalah solusi yg ideal. Masalahnya, drone tidak murah & tak selalu mudah didapat di semua tempat.

    Conservation Drones, LSM yg berlokasi di Amerika Serikat, membantu para konservasionis membuat drone sendiri serta mengajarkan cara memprogram & menggunakannya. Ada banyak sekali rencana yg bisa diterapkan dengan drone dalam melindungi lingkungan. Menghitung jumlah sarang orang utan di hutan hujan di Indonesia, pencitraan dengan drone dapat membantu kita memantau wilayah dengan peningkatan suhu panas yg tak lazim.
    [​IMG]Dua sarang Orang utan yg gambarnya diambil Drone

    Keuntungan drone adalah kita bisa menggunakannya untuk berbagai keperluan. Kita juga dapat segera menerbangkannya untuk mengumpulkan data. Kekurangannya adalah cakupan wilayahnya yg terbatas, karena drone biasanya mengikuti jalur penerbangan yg sudah diprogram sebelumnya. Selain itu, daya tahan baterainya terbatas.
    Pencitraan satelit yg murah
    Perkembangan terbaru yg membuat para aktivis lingkungan hidup tersenyum lebar adalah meningkatnya ketersediaan data satelit beresolusi tinggi terkini. Hal ini disebabkan karena perkembangan satelit mikro generasi terbaru yg dikembangkan oleh perusahaan seperti Planet Labs & Skybox. Axelspace dari Jepang juga bersaing dalam bisnis ini.

    Ukuran satelit mikro bisa sama kecilnya seperti kotak sepatu & dibawa ke luar angkasa dalam jumlah yg banyak. Alat ini dapat menyampaikan pencitraan keseluruhan planet dengan frekuensi yg lebih sering & biaya yg lebih murah dibandingkan satelit konvensional.

    Pencitraan satelit dapat membantu menganalisa perubahan pada penggunaan lahan & ruang lingkup hutan, memetakan tingkat kebakaran, / mencari sumber kebakaran.

    Karena volume hasilnya begitu tinggi & satelit mampu mencakup area yg sangat luas, teknologi tersebut menjadi lebih menarik saat dikombinasikan dengan perangkat lunak penganalisa citra pintar. Perusahaan seperti Descartes Labs yg bermarkas di New Mexico berada di garis terdepan dalam perkembangan teknologi ini.
    Implementasi di semua kalangan
    Proyek-proyek yg disebutkan tadi kebanyakan dikembangkan di luar wilayah Asia Tenggara, meski banyak dari proyek tersebut yg telah diuji di wilayah ini, dengan keanekaragaman hayatinya begitu banyak & masalah lingkungan semakin memburuk setiap tahunnya.

    Contoh lain mengenai kesuksesan aplikasi teknologi “di medan belantara” dapat ditemukan di situs lingkungan Mongabay.com. Situs tersebut baru-baru ini memperkenalkan keseluruhan isu dalam topiknya.

    Namun, ketimbang program percobaan yg dikembangkan secara terpisah, persilangan antara teknologi & konservasi alam seharusnya menjadi hal yg lumrah di Asia Tenggara. Teknologi tersebut perlu dipahami & diadaptasikan di semua tingkatan, dari pemerintah hingga mereka yg berkecimpung lapangan.

    Apa yg dilakukan para inovator Asia Tenggara dalam memberi sumbangsih di teknologi konservasi alam? Apa saja program-program menarik yg sedang digalakkan? Beritahu kami lewat kolom komentar.

    (Diterjemahkan oleh Faisal Bosnia & diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page